Vian Wedo Pratama
Melihat
mereka-mereka yag kini telah memiliki pasangan untuk bersendagurau bersama,
rasanya saya semakin sedih dan berfikir mengapa saya juga tak kunjung
mendapatkan pasangan seperti mereka. Apakah karena saya kurang asik, atau saya
kurang tampan, atau apalah yang membuat saya terus sendiri sampai sekarang?
Saya juga ingin membuat status-status galau ala mereka yang sedang jatuh cinta,
walaupun terkesan berlebihan tetapi itulah nyatanya sedang terjadi pada mereka.
Rasa-rasanya saya sangat rindu akan moment-moment menunggu sms dari si doi,
senyum-senyum sendiri tidak karuan hanya karena di gombali kata-kata tidak
penting, ataupun saat-saat ketika harus menangis
karena merasa begitu sayangnya kepada pasangan. Saya harap giliran saiya akan
segera tiba.
Beberapa
minggu lalu saya berkenalan dengan seseorang melalui jejaring social facebook,
beberapa hari kami melakukan obrolan sembari saling mengenal ala-ala dunia
pelangi. Saya lihat foto-foto yang tersimpan pada album profilnya, ah saya kira
ia bukanlah sosok seorang yang tampan seperti beberapa kriteria pasangan saya,
ia seseorang dengan postur tubuh tinggi sedang(ideal dengan berat badan), gaya
rambut standar berwarna coklat dengan sedikit kemerahan karena terpapar sinar
matahari, wajah pas-pasan tidak biasa di bilang perfect seperti wajah-wajah
artis korea, dan kulit kecoklatan sesuai khas ras jawa. Saya fikir tidak
masalah chatting dengannya, palingan ujungnya ketemuan sekali dan jikalau
memang tidak cocok akan saya lupakan hubungan tersebut dan mencoba untuk
menghindar, maka berlanjudlah obrolan saya
dengannya.
Hari
pertama di tahun 2015, saya putuskan untuk mengundangnya ke kamar kos. Sengaja
saya undangnya di hari itu karena saya tidak memiliki planning apapun ketika
hari pertama di tahun baru, saya fikir mengajaknya ke kamar kos akan lebih baik
ketimbang hanya jenuh sendirian menunggu hari.
Ia datang, saya memandangnya penuh koreksi dari ujung rambut
hingga kaki. Wajahnya lumayan, hanya sayang
saya tidak menyukai gaya berpakaiannya, begitu standar karena ketika itu ia menjumpaiku hanya dengan menggunakan
celana bahan jeans pendek, kaos dengan jaket warna coklat, dan memakai alas
kaki sandal jepit (//-,-“ santaisekali), tetapi tak apalah yang penting dia
tidak seburuk itu dimataku. Kami berbincang-bincang sebentar kala itu, hingga
kemudian mata kami saling menatap pertanda ketika kami saling mengingini hal
yang lebih dari sekedar perbincangan ringan
kami tersebut, diawali dengan pelukan mesra hingga hasrat kami secara
alami memandu tangan dan tubuh kami untuk saling merasakan satu sama lain. Saya
suka aroma alami di tubuhnya, aroma khas phiromones pada lelaki yang membuat
saya begitu nyaman mendekap tubuhnya. Tidak ada rasa jijik seperti sebelumnya
ketika saya melakukan hal seperti dengan kenalan-kenalan yang sebelumnya,
justru saya begitu nyaman yang saya rasakan. Sekita 45menit kami melakukan hal
tersebut hingga seuai itu ia meminta ijin untuk kembali, saya menghantarkannya
keluar hingga sepeda motornya keluar melewati gerbang kos. Sebegitu ia pergi, perasaan
saya masih biasa saja tidak merasa salah tingkah, merasa rindu ataupun terus
memikirkannya, terahir saya hanya saling
membalas pesan berucap terimakasih atas pertemuan singkat yang baru saja
terjadi ketika itu.
Tiga
minggu lebih pasca pertemuan tersebut, kami seperti hilang kontak tetapi tidak
tetap saling mengenal, sesekali saya masih menyempatkan untuk menengok
aktivitas online pada jejaring social facebooknya, memang sedikit curious saya
padanya tetapi saya fikir itu wajar-wajar saja toh saya tidak sampai
menggebu-gebu berharap untuk mengingininya. Hingga terahir kemarin ketika saya
baru membuka branda facebook otomatis muncul status atas namanya, seperti
terbakar perasaan saya ketika itu. Mendapati profil terbarunya menunjukan
status berpacaran dengan seorang pria lain, ntah mengapa sepertinya saya
cemburu berlebihan kala itu, fikiran ini terus saja tidak enak mengenai hal
tersebut, mengapa saya sakit hati? Mengapa saya sedih? Mengapa saya saat ini terlihat
seperti ini.
Jujur saya baru mengerti, ternyata sebenarnya saya
mengingini Vian sebagai seseorang yang dapat saya kenal lebih dari sekedar
seorang kenalan, saya mengharapkannya sebagai
seorang kekasih. Jika ia mengerti saya harap ia mau untuk kembali
mencari dan saya akan menerimanya dengan segala rasa bersyukur saya.
“saya harap kamu adalah jawaban dari doa saya tahun ini”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar