Sabtu, 31 Januari 2015

Vian Wedo Pratama

                Melihat mereka-mereka yag kini telah memiliki pasangan untuk bersendagurau bersama, rasanya saya semakin sedih dan berfikir mengapa saya juga tak kunjung mendapatkan pasangan seperti mereka. Apakah karena saya kurang asik, atau saya kurang tampan, atau apalah yang membuat saya terus sendiri sampai sekarang? Saya juga ingin membuat status-status galau ala mereka yang sedang jatuh cinta, walaupun terkesan berlebihan tetapi itulah nyatanya sedang terjadi pada mereka. Rasa-rasanya saya sangat rindu akan moment-moment menunggu sms dari si doi, senyum-senyum sendiri tidak karuan hanya karena di gombali kata-kata tidak penting, ataupun saat-saat ketika  harus menangis karena merasa begitu sayangnya kepada pasangan. Saya harap giliran saiya akan segera tiba.

                Beberapa minggu lalu saya berkenalan dengan seseorang melalui jejaring social facebook, beberapa hari kami melakukan obrolan sembari saling mengenal ala-ala dunia pelangi. Saya lihat foto-foto yang tersimpan pada album profilnya, ah saya kira ia bukanlah sosok seorang yang tampan seperti beberapa kriteria pasangan saya, ia seseorang dengan postur tubuh tinggi sedang(ideal dengan berat badan), gaya rambut standar berwarna coklat dengan sedikit kemerahan karena terpapar sinar matahari, wajah pas-pasan tidak biasa di bilang perfect seperti wajah-wajah artis korea, dan kulit kecoklatan sesuai khas ras jawa. Saya fikir tidak masalah chatting dengannya, palingan ujungnya ketemuan sekali dan jikalau memang tidak cocok akan saya lupakan hubungan tersebut dan mencoba untuk menghindar, maka berlanjudlah obrolan saya  dengannya.

                Hari pertama di tahun 2015, saya putuskan untuk mengundangnya ke kamar kos. Sengaja saya undangnya di hari itu karena saya tidak memiliki planning apapun ketika hari pertama di tahun baru, saya fikir mengajaknya ke kamar kos akan lebih baik ketimbang hanya jenuh sendirian menunggu hari.

Ia datang, saya memandangnya penuh koreksi dari ujung rambut hingga kaki.  Wajahnya lumayan, hanya sayang saya tidak menyukai gaya berpakaiannya, begitu standar  karena ketika itu ia menjumpaiku hanya dengan menggunakan celana bahan jeans pendek, kaos dengan jaket warna coklat, dan memakai alas kaki sandal jepit (//-,-“ santaisekali), tetapi tak apalah yang penting dia tidak seburuk itu dimataku. Kami berbincang-bincang sebentar kala itu, hingga kemudian mata kami saling menatap pertanda ketika kami saling mengingini hal yang lebih dari sekedar perbincangan ringan  kami tersebut, diawali dengan pelukan mesra hingga hasrat kami secara alami memandu tangan dan tubuh kami untuk saling merasakan satu sama lain. Saya suka aroma alami di tubuhnya, aroma khas phiromones pada lelaki yang membuat saya begitu nyaman mendekap tubuhnya. Tidak ada rasa jijik seperti sebelumnya ketika saya melakukan hal seperti dengan kenalan-kenalan yang sebelumnya, justru saya begitu nyaman yang saya rasakan. Sekita 45menit kami melakukan hal tersebut hingga seuai itu ia meminta ijin untuk kembali, saya menghantarkannya keluar hingga sepeda motornya keluar melewati gerbang kos. Sebegitu ia pergi, perasaan saya masih biasa saja tidak merasa salah tingkah, merasa rindu ataupun terus memikirkannya,  terahir saya hanya saling membalas pesan berucap terimakasih atas pertemuan singkat yang baru saja terjadi ketika itu.

                Tiga minggu lebih pasca pertemuan tersebut, kami seperti hilang kontak tetapi tidak tetap saling mengenal, sesekali saya masih menyempatkan untuk menengok aktivitas online pada jejaring social facebooknya, memang sedikit curious saya padanya tetapi saya fikir itu wajar-wajar saja toh saya tidak sampai menggebu-gebu berharap untuk mengingininya. Hingga terahir kemarin ketika saya baru membuka branda facebook otomatis muncul status atas namanya, seperti terbakar perasaan saya ketika itu. Mendapati profil terbarunya menunjukan status berpacaran dengan seorang pria lain, ntah mengapa sepertinya saya cemburu berlebihan kala itu, fikiran ini terus saja tidak enak mengenai hal tersebut, mengapa saya sakit hati? Mengapa saya sedih? Mengapa saya saat ini terlihat seperti ini.

Jujur saya baru mengerti, ternyata sebenarnya saya mengingini Vian sebagai seseorang yang dapat saya kenal lebih dari sekedar seorang kenalan, saya mengharapkannya sebagai  seorang kekasih. Jika ia mengerti saya harap ia mau untuk kembali mencari dan saya akan menerimanya dengan segala rasa bersyukur saya.

 

“saya harap kamu adalah jawaban dari doa saya tahun ini”

Kamis, 01 Januari 2015

2015

SEKSUAL ORIENTATION



Saya bersikukuh menerima hidup saya dengan orientasi seksual seperti ini, saya enjoy menjalaninya dan tidak ingin mengelak dari kehidupan . Mengenai saya sekarang , saya sangat-sangatlah bersyukur atas apa yang terjadi atas hidup saya,

Tetapi ada beberapa hal yang membuat saya berlebihan merasakan sesuatu. Mengapa dalam dunia yang saya syukuri ini hanya memberi dua pilihan?
bottom or top yang mengacu pada tingkahlaku aktivitas seksual kaum homoseksual dengan maksud kasarnya adalah menusuk atau ditusuk . Saya memang homoseksual, tetapi saya tidak bisa memilih bagaimana saya harus memposisikan diri saya dalam dua pilihan tersebut. Saya tidak nyaman bila harus mendasari suatu hubungan dengan tujuan seks seperti itu. Saya tidak mengingini

beberapa kali saya menjalin hubungan dengan pria dan selalu tidak bertahan lama,

“kamu kenapa gak mau ngelakuin ini buat aku? Aku butuh! Aku mau kita ngelakuin ini”
“maaf aku gak bisa”
“oke, kamu yang top, biar aku bottom!”

Hampir selalu seperti itu kejadian yang terjadi pada saya. Saya gak bisa, saya gak bisa, saya benar-benar gak bisa! Hanya jawaban seperti itu yang bisa saya ucapkan selain hanya diam. Saya merasa bersalah karena tidak bisa membuat pasangan saya bahagia dengan apa yang seharusnya saya beri untuk mereka. Tetapi rasa bersalah yang hendak saya tebus justru akan berujung dengan menyakiti diri saya sendiri.

Pernah ketika saya benar-benar tidak ingin membuat pasangan saya sebegitu kecewanya dengan saya, maka untuk pertama kalinya saya mencoba memberikan apa yang dia inginkan. Ujung yang terjadi ketika ia baru sempat memulai permainannya adalah saya berteriak kesakitan dan meminta untuk menyudahi hal tersebut. Itu baru terjadi setelah tiga bulan kebersamaan kami, setelah itu  saya sadar bahwa  hubungan kami tidak akan berjalan lebih lama lagi. Kemudian kami putus

Jiwa saya memang lebih kewanita yang sangat merindukan kasih sayang untuk saling mengekspresikan cinta namun kepada sesame. Saya ingin memiliki kekasih yang tidak mementingkan bottom or top tetapi sebih kepada hubungan kami untuk saling mengerti.
Saya harap di tahun 2015 ini adalah tahun dimana saya mendapankan apa yang saya inginkan, meskipun mustahil saya ingin tetap berharap.